VIVABOLA

Ramang, Maradona-nya Indonesia

Sosok Ramang dan kehebatannya dikisahkan dalam sebuah buku, Ramang Macan Bola.
Rabu, 10 Agustus 2011
Oleh : Marco Tampubolon
Ramang

VIVAnews - Timnas Indonesia pernah disegani di kawasan Asia. Julukan sebagai Macan Asia pun bahkan pernah disandang oleh Tim Merah Putih era 50-an. Dan salah satu aktor penting timnas pada era kejayaan ini adalah Ramang.

Ramang adalah pemain yang dibesarkan oleh PSM Makassar. Ramang sukses mengantar Juku Eja menjadi juara perserikatan di era 1950-an. Dengan kemampuannya, Ramang juga menjadi tulang punggung timnas saat itu.

Menurut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng, Ramang tak hanya sukses mengukir prestasi bersama PSM. Namun lebih dari itu, Ramang adalah inspirasi bagi anak-anak Makassar yang menggandrungi si Kulit Bundar.

"Dulu, kalau anak-anak Makasar bermain bola, mereka selalu bermain dan bercita-cita seolah-olah sebagai Ramang," ujar Andi dalam acara launching buku 'Ramang, Macan Bola', di kantornya, Senayan,  Selasa.

'Ramang, Macan' Bola ditulis oleh M Dahlan Abu Bakar. Buku setebal 512 halam ini bercerita mengenai kisah Ramang selama menjadi pemain sepak bola.

Mantan pemain timnas Henkie C Timisela yang hadir pada acara launching mengaku kagum dengan kemampuan Ramang dalam mencetak gol. Mantan pemain Persib itu lalu mengisahkan kehebatan Ramang saat membela timnas.

Menurut Henkie, pada era 1954, PSSI hampir mampu menyapu seluruh lawan yang dihadapi kala melakukan lawatan ke Asia. "Yang menakjubkan, Dari 25 gol Timnas Indonesia, 19 di antaranya lahir dari kaki Ramang," ujar Henkie.

Sebagai striker, Ramang dikenal haus gol. Selain punya kecepatan, Ramang juga memiliki tendangan yang cukup keras. Satu lagi talenta Ramang yang merupakan bakat alam adalah kemampuannya melakukan tendangan salto.

Atraksi ini pernah ditunjukkannya saat Indonesia mengalahkan RRC 2-0 jelang Piala Dunia 1958. Dalam duel ini, Ramang berhasil mencetak dua gol di mana satu di antaranya lahir dari proses tendangan salto khas Ramang. 

Berkat Ramang, Indonesia kala itu masuk dalam kekuatan yang diperhitungkan di Asia dan membuat banyak klub Eropa penasaran. Satu demi satu tim-tim Eropa menjajal kekuatan timnas. Mulai dari Yugoslavia, Stade de Reims, Rusia dengan kiper Lev Jashin hingga Locomotive dengan penembak maut Bubukin.

Ramang mengakhiri karirnya di tahun 1968 saat usianya menginjak 40 tahun. Setelah gantung sepatu, Ramang melanjutkan karir sebagai pelatih hingga ia ia menghembuskan nafas terakhir 26 September 1987 karena menderita sakit.

"Kalau di Eropa ada Mourinho yang digelari Special One, maka di Indonesia layak disematkan Special One kepada Ramang," ujar rekan satu tim Ramang di timnas Indonesia, Harry Tjong.

"Hingga saat ini belum ada pemain Indonesia yang bisa menggantikan sosoknya. Ia seperti Maradona di Argentina, yang bakatnya merupakan anugerah dan pemberian Tuhan," kata Harry menambahkan. 

Harry juga berharap kisah Ramang yang diangkat ini menjadi pelecut semangat timnas Indonesia meraih prestasi di kancah Internasional. Apalagi, Indonesia saat ini sedang berjuang lolos Kualifikasi Putaran III Piala Dunia 2014. (umi)

TERKAIT
TERPOPULER