VIVABOLA

Al Zaytun, Istana di Tengah Hutan Jati

Pondok pesantren modern itu tak didukung sarana infrasktrur yang baik.
Kamis, 12 Mei 2011
Oleh : Nur Farida Ahniar, Dedy Priatmojo
Kompleks Pondok Pesantren Al Zaytun

VIVAnews- Pondok Pesantren Al Zaytun, kini menjadi perbincangan. Nama pesantren pimpinan Panji Gumilang itu mendadak fenomenal setelah sempat disebut-sebut sebagai sarang Negara Islam Indonesia (NII).

Seperti apakah rupa pesantren ini? Dilihat sekilas memang tak ada yang ganjil dengan pesantren ini.

Pantauan VIVAnews, bendera merah putih dan foto-foto Presiden dari mantan Presiden Soekarno hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melekat di bagian atas pendopo rumah Masikhoh atau kediaman rumah syekh, demikian para santri akrab menyapa kyainya, Panji Gumilang.

Pesantren yang berdiri di atas tanah seluas 1.200 hektar ini bahkan memiliki motto pusat pengembangan budaya toleransi dan perdamaian. Motto ini diambil dari nilai-nilai dasar negara Indonesia yang telah disepakati bersama dan dengan tulus ikhlas. "Terwujudlah bentuk yang real Ma'had Al Zaytun,” ujar Panji Gumilang saat menerima kunjungan Menteri Agama Suryadharma.

Sementara itu kompleks bangunan pesantren tertata rapi. Bangunan modern ini menganut konsep asrama yang terintegrasi. Dari total lahan seluas 1.200 hektar, baru 200 hektar dimanfaatkan sebagai lahan terbangun. Sisanya 500 hektar digunakan sebagai lahan produktif, yakni untuk area persawahan, dan 500 hektar lainnya untuk hutan jati emas. Meski begitu, pesantren Al Zaytun masih terlihat lapang untuk aktivitas 7.718 santri dari penjuru tanah air.

Bahkan Menteri Agama Suryadharma Ali ikut kagum dengan kemegahan bangunan, sistem pendidikan, dan aktivitas santrinya. Menurutnya, Al Zaytun memadukan pendidikan dan kenyataan hidup dengan pemberdayaan ekonomi dari mulai produksi, pengolahan, hingga penjualan.

"Saya tercengang di Al Zaytun yang memadukan pendidikan dan kenyataan hidup. Mereka mengolah, mendistribusi, menjual, hingga dinikmati masyarakat luas dan santri," kata menteri yang juga Ketua Umum PPP ini.

Ciri Al Zaytun sebagai pesantren modern makin tak terbantahkan dengan bangunan paling monumental yaitu Masjid Rahmatan Lil Alamin. Masjid berlantai 6 itu dibangun diatas tanah ± 3.000 meter dengan kontruksi megah. Tampak sebagian dinding dan lantai dibalut  batuan granit dan marmer hitam. Ketika ditengok bagian basement Masjid terdapat ruangan yang berisipuluhan ribu kubik kayu ulin dan jati.

"Rencananya itu kayu jati akan kami gunakan pintu, jendela dan hiasan masjid karena ada ulirnya. Sedangkan kayu ulin kita jadikan kusen," kata Panji Gumilang menjelaskan.

Ironisnya, pesantren yang tampak bak kota megah di tengah area persawahan itu tak didukung infrastruktur jalan yang baik. Untuk menuju pesantren yang terletak di desa Mekar Jaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu itu, harus menempuh jarak 20 km dari Jalan Raya Pantura. Jalanan pun bergelombang dan berlubang. Kondisi ini tentunya sangat kontras dengan ide modernisme pesantren dengan label termegah se Asia Tenggara itu.

Jadi, bagaimana kaitan Al Zaytun dengan NII? "Al Zaytun tidak ada kaitannya dengan organisasi tersebut (NII). Saya tahu NII ada sejak tahun 1949 dan dibubarkan oleh panglimanya tahun 1962. NII sudah selesai," tegas Panji Gumilang. (umi)

TERKAIT
    TERPOPULER