VIVABOLA

Bonek Biang Perang 10 November

Bonek populer sejak 1990-an. Perilaku itu sesungguhnya warisan turun -temurun.
Minggu, 15 November 2009
Oleh : Wenseslaus Manggut
Cornelia Agatha baca puisi di lokasi penyobekan bendera Belanda 10 November 1948

ISTILAH  bonek dikenal sejak 1990-an. Bonek atau bondo nekat untuk menjuluki para suporter sepak bola yang tidak memiliki bekal atua modal (bondho). Namun mereka tak surut (nekat) untuk membela tim kesayangannya.

Perilaku bonek sebenarnya warisan turun-temurun yang berlangsung cukup lama. Perilaku ini bermigrasi dari masyarakat yang hidup di pinggiran sungai Brantas yang membentang dari Kediri sampai Surabaya.

Bentangan wilayah inilah yang kemudian dikenal sebagai ekologi budaya Arek. Cakupan wilayahnya membentang dari pesisir utara di Surabaya hingga ke daerah pedalaman selatan, daerah Malang. Wilayah ini tergolong paling pesat perkembangan ekonominya, 49 persen aktivitas ekonomi Jatim ada di sini. Tak heran bila arus migrasi dari wilayah lain banyak masuk ke kawasan ini.

Bentangan ini kemudian oleh budayawan Ayu Sutarto disebut salah satu sub kultur yang ada di Jawa Timur, yaitu subkultur Arek. Arek sebagai salah satu kekayaan kultur Jawa Timur memiliki karakteristik yang keras khas pesisiran.

Karakter keras tersebut pun lebih pada sikap pantang menyerah, ngeyel, dan keteguhan mempertahankan pendapat serta prinsip sebagai wujud penghargaan tertinggi mereka terhadap harga diri.

Karena banyak bersentuhan dengan pendatang dari latar budaya, mereka membentuk budaya yang khas, budaya komunitas Arek. Mereka mempunyai semangat juang tinggi, solidaritas kuat, dan terbuka terhadap perubahan.

Karakter semacam ini dijelaskan oleh Autar Abdillah sebagai perpaduan hegemoni Mataram dan kerasnya alam yang membentuk budaya Arek. Autar memaparkan itu dalam tesisnya berjudul Hegemoni Mataram Terhadap Budaya Arek. Menurut Autar, tantangan alam yang keras selama lebih dari lima abad membuat mental dan karakter generasi Arek praktis menjadi begitu teruji.

Budaya Arek, menurut dosen Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini, mengalami proses pembentukan yang panjang. Proses pembentukan itu bisa ditelusuri lewat buku Von Faber berjudul Er Werd Een Stad Geboren (1953). Di dalamnya terdapat pembabakan proses terbentuknya budaya Arek yang didasarkan pada peta yang dibuat pemerintah koloni sejak abad ke-9.

Setidaknya ada tiga peta yang telah dibuat, yakni abad ke-9, abad ke-10 dan abad ke-13. Ketiga peta ini merupakan sumber penting untuk memetakan perkembangan kondisi Surabaya, berikut karakter masyarakatnya.

Lebih jauh Autar menceritakan, sebelum seperti sekarang, kondisi Surabaya yang dulu, tepatnya di abad ke-4, masih berupa gugusan pulau kecil. Beberapa pulau yang kini menjadi kampung seperti Wonokromo, Ngasem, Rungkut, Bungkul, dan Bagong merupakan bukti bahwa sebenarnya kehidupan masyarakat Surabaya pada masa itu tidak bisa seperti sekarang yang dengan mudah bepergian dari satu kawasan ke kawasan lain.

Dominasi peraturan serta konvensi Majapahit dengan doktrin Hindu-Jawanya yang pada masa itu memang mengakar begitu kuat membuat munculnya banyak sekali pelanggaran-pelanggaran. Itulah latar belakang akhirnya dibangun sebuah penjara yang berada di kawasan Domas, sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Bungkul dan Dadungan, meskipun kini baik kawasan Domas maupun Dadungan sudah lenyap, entah benar-benar lenyap atau berganti nama. Sedangkan kawasan Bungkul tetap ada hingga kini, hanya saja semakin bertambah luas wilayahnya.

Penjara Domas tersebut terbagai menjadi 8 tingkatan, mulai tingkatan awal yang merupakan tempat bagi narapidana yang sama sekali belum bisa dididik hingga menjadi masyarakat yang taat. Sampai pada tingkat terakhir yang merupakan tempat penggodokan atau pengayaan bagi narapidana yang sudah mulai bisa dikembalikan ke jalan yang sesuai dengan aturan yang ada.

Penjara Domas tersebut ditengarai merupakan penjara pertama yang menggunakan sistem hukuman kurung. Saking kerasnya, di penjara bagian awal, kecil kemungkinan bagi narapidana untuk bisa bertahan hidup.

Betapa tidak, dalam penjara yang terletak di pulau kecil sebelah utara Domas, di mana pulau tersebut akan tenggelam jika air laut sedang pasang. ”Jadi tidak mungkin narapidana yang dipenjara di sana bisa selamat,” kisah Autar.

Meski demikian, masih ada juga narapidana yang bisa selamat dari kepungan air laut yang pasang. Narapidana yang bisa selamat itu kemudian terus naik hingga ke tingkat paling akhir, untuk kemudian dilepas kembali ke masyarakat.

Narapidana yang berhasil lolos dari penjara bagian awal tersebut bisa dikatakan merupakan narapidana-narapidana yang memiliki semacam kesaktian, yang kebanyakan setelah menempuh kedelapan bagian penjara Domas. Mereka kemudian menempati wilayah Bungkul. Inilah yang kemudian membuat Bungkul menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki kesaktian.

Kerasnya kehidupan di Domas memang ditengarai yang memicu karakter keras dan pantang menyerah dari masyarakat Surabaya yang memang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi.

Belum lagi ditambah tantangan alam yang sepertinya tidak pernah bersahabat dengan masyarakat waktu itu. Dalam kurun waktu lebih dari 431 tahun, mereka harus mengalami dampak dari 22 kali letusan Gunung Kelud. Lahar dingin yang terus membanjiri sungai, ditambah hujan abu yang begitu sering terjadi, membuat hidup mereka semakin susah.

Kesusahan hidup inilah yang secara lebih dari empat abad menempa dan membentuk mereka menjadi manusia yang kuat, tidak pantang menyerah, dan loyal pada tempat tinggalnya. Hingga akhirnya endapan lahar dingin Gunung Kelud semakin mempersatukan pulau-pulau yang terpisah itu menjadi satu daratan, dengan tambahan beberapa reklamasi yang dilakukan sendiri oleh warga.

”Meski susah, mereka tetap bertahan di tempat tinggal mereka,” ungkap Autar.

Hingga akhirnya masuklah invasi Mataram di tahun 1622-1625. Invasi ini setidaknya membawa pengaruh pada masyarakat, baik secara struktural, maupun secara kultural. Perubahan yang paling menonjol adalah perubahan dalam aspek kultural, dalam hal ini adalah bahasa dan tata hubungan masyarakat.

Kawasan sekitar sungai Brantas yang semula berkarakter egaliter, tanpa kelas, apa adanya, yang bisa dilihat dari bahasa yang mereka pakai  yang juga merupakan bahasa Jawa ngoko, bahasa yang tidak membedakan kelas, berubah total setelah masuknya Mataram.

Invasi Mataram kemudian mengubah kebiasaan mereka. Bahasa yang mereka pakai pun perlahan terpengaruh oleh bahasa khas Mataraman, yang lebih halus dan memiliki strata bahasa yang sangat terstruktur.

Hal ini disebabkan hegemoni yang dilakukan Mataram dengan menempatkan ‘raja-raja kecil’ untuk menguasai wilayah-wilayah yang ada di sekitar sungai Brantas.

Ini dibenarkan oleh Akhudiat. Budayawan asal Surabaya ini mengisahkan bahwa setelah Majapahit ditaklukkan Mataram di masa pemerintahan Pangeran Pekik, praktis Mataram pun kemudian menguasai Surabaya dan daerah lain di sekitar sungai Brantas. Hingga akhirnya Surabaya pun saat itu dikuasai Unggul Sawelas, sebelas pemimpin Mataram.

Berbeda dengan wilayah yang berada di sisi barat sungai Brantas, wilayah di sisi sebelah timur sungai Brantas memang cenderung lebih susah ditaklukkan. Kebanyakan masyarakat di wilayah ini merupakan orang-orang buangan yang memiliki kekuatan baik fisik maupun metafisik.

Dengan modal inilah kemudian karakter Arek yang sudah tertanam dalam diri mereka dapat ’sedikit’ dipertahankan. Hingga akhirnya sampai kini masih bisa setia dilestarikan oleh masyarakat di daerah pesisir sungai Brantas, mulai Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Malang, Kediri, dan Blitar.

”Maka muncullah budaya Arek yang meliputi wilayah dari Surabaya hingga Kediri dan Blitar,” ungkap Autar.

Memang, khusus Kediri dan Blitar, tergolong kasus yang unik. Betapa tidak, dua kota ini pada dasarnya memiliki dua kultur yang bertolak belakang. Meski bahasa dan dialek yang mereka gunakan menganut bahasa khas Mataraman yang halus dan berstrata, namun karakter asli beberapa dari mereka, seperti masyarakat yang berada di lereng Gunung Kelud dan pesisir sungai Brantas, tidak dapat dipungkiri, benar-benar khas Arek. Pantang menyerah, ngeyel, dan begitu teguh memegang prinsip serta pendapatnya.

”Khas Majapahitan, yang selalu merasa lebih unggul dari kaum mana pun,” tegas Akhudiat.

Jadi, falsafah bonek, yakni bondo nekat sebenarnya merupakan sebuah wajah asli dari masyarakat pesisir sungai Brantas, khususnya Surabaya.

Hingga tidak bisa dipungkiri, semangat pantang menyerah dan keteguhan memegang prinsip dan harga diri mereka merupakan faktor utama pecahnya perang 10 November 1945 yang ditengarai merupakan tonggak awal munculnya istilah Arek.

Oleh karena itulah, perang revolusi 10 November 1945 bukanlah tonggak awal, melainkan lebih merupakan titik kulminasi dari munculnya karakter dan budaya Arek tersebut. ”Gara-gara kekerasan kepala masyarakat Surabaya yang tidak mau mematuhi ultimatum Mansergh, pecahlah perang besar 10 November 1945,” pungkas Autar. *

Berita Terkait
Surabaya Butuh Tetenger
DAU-DAK Terancam Dipending
Kena Perangkap Pasutri
TERKAIT
TERPOPULER